Hujan, Ketika Hujan Hatiku pun Iba.

8 06 2009

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

ke bumi Indonesia

karena kami memang gerah dan kepanasan

luar dalam

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

ke tengah kota

karena got kami memang mampat dan bersampah

dimana mana

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

ke pinggiran juga

karena disana sama saja, tak ada yang peduli

sampah masuk kali

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

sirami jiwa kami yang kerontang

yang memilih mematikan aspirasi dan kritikan

rakyatnya sendiri

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

beri pelajaran mereka yang tamak dan jumawa

yang mengizinkan mangrove sirna

di utara Jakarta dan Bandara

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

dinginkan hati dan kepala kami yang saling caci

hanya demi sebuah kursi

yang nanti diganti janji-janji

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

ciptakanlah macet

karena hanya dengan itu kami bisa mengerti

arti waktu dan momentum yang terbuang lagi

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

meski ketika hujan hatiku iba

karena Indonesia masih saja disini

bukan seperti mereka

sudah jauh disana

******

(lapangan banteng, siang yang putih, 8 juni 09)





bubur ayam, martabak, dan semir sepatu

15 03 2009

jumat itu, tiga belas maret kosong sembilan

kegembiraan itu dan nikmatMu, kurasakan dari pagi hingga jam delapan

bubur itu, kusikat habis dan masih ditambahi martabak

penat dan capek itu, menambah semangat untuk makan enak

***

sayup kudengar di telingaku

semir om?“, seraut wajah kuyu berbaju biru dibelakang mejaku

anak gadis kecil bertas pinggang kecil, memanggil

“nanti ya!” jawabku, merasa terusik

“leave me alone, jangan ganggu aku dulu!” begitu rayuan setan menggedor batinku

om bagi martabaknya nanti ya, aku kepengen!” suara itu meneruskan rengekannya

kudiam, kulanjutkan membunuh rasa lapar yang lama kutahan

kunikmati bubur hangat, tapi mulai tersendat

“kamu punya semir apa?” tanyaku memanggil dia yang sudah kepinggir

“kiwi om!” dia kembali mendekat

sepatuku kulepas, karena memang kotor

kemaren kehujanan di tempat parkir bertanah basah

pun sudah lama tak  kusemir

ia gembira dan membawanya ke temannya

***

cekatan mereka

dengan tangan membalur bagian sepatu hitamku satu-satunya

dengan tawa ria mereka bekerja sama, sama-sama bekerja

anak lelaki lain mengincar, menawarkan jasanya

***

diam-diam kupesankan satu lagi martabak

ku keluarkan kamera

kujepretkan ke wajah-wajah lusuh dan kumuh itu

berkali-kali

sempat kaget, kemudian mereka mendekat dan bergaya

cukup lama kutunggu sepatuku

meski bubur dan minumku sudah tandas

kunikmati nikmatMu

kuingat hariku, Jumatku, dan kesejukanMu

***

“udah aja” pastiku ketika melihat kilatan hitam

kupanggil, siska namanya

“nih martabaknya, makan rame-rame ya!” tegasku

siska menyambar termasuk uang beberapa lembar, tapi masih di sekitar

kulihat teman siska melongo menunggu martabaknya dibuka

***

“om katanya buat ibunya” anak kecil lainnya berjaket hijau memelas

kupanggil siska dan kusuruh buka

“katanya kamu ingin makan martabak, makan sama-sama ya” tukasku

siska akhirnya menurut dan sekejap martabak mereka santap

nikmatya ikut kurasakan

mereka lalu  kutinggalkan

mereka menyusul ku

“ada apa lagi?” mbatinku

kaca pintu kuturunkan

“om, kok kami difoto? mau dimasukin koran ya?” tanya si jaket hijau

“gak hanya untuk om saja” tapi aku membatin juga

“udah ya, om pulang dulu, anak om menunggu!”

si jaket hijau mematung, ragu

“om kapan datang lagi?” tanya nya sendu

membuat ku ragu dan terdiam bisu

dadaku sesak, ingin meledak

“nanti om pasti datang lagi!” pelan kujawab

mulutku terkunci, mata berkaca

hati-hati dijalan ya om!” si jaket hijau memberikan salam perpisahan

kutahu salamnya tulus, menyejukkan

bukan karena bubur, martabak atau semir sepatu

tapi keluguan dan ketulusan  anak-anak sebaya anakku, anakmu, anak-anak kita.

siska cs bergembira menyemir sepatu saya

siska cs bergembira menyemir sepatu saya

mereka pun bergaya, lupa martabaknya

mereka pun bergaya, lupa martabaknya
tetap ceria menggosok sepatu saya

tetap ceria sambilkerja

depok, minggu malam, 15 maret kosong sembilan





jumatkumenangis

9 01 2009

jumat ini aku menangis

dijewer khotib

*

mengapa aku tak benar-benar peduli

darah, pecahan peluru, tulang, dan bongkahan batu

di badan mereka, dikulit anaknya, terpatah hingga kelihatan putihnya, menimpa

*

mematikan

mencabut nyawa

membuat cacat

dan mencerai beraikan keluarga

*

zionis laknatullah itu

menerbarkan teror dan kebencian

dengan kelicikan tingkat tinggi

hingga amerika saja tidak berdaya

apalagi mereka di jalur gaza

*

mengapa aku tidak peduli?

engkau juga.

*

dimalam tahun baru hijriah

bom dan mitraliur memecah

dinding dinding rumah

*

sekarang musim dingin tiba

wind chill akan sangat menyiksa

karena rumah mereka tanpa jendela

kalau pun ada

bolong dimana-mana

tak mungkin menahan cuaca

*

jumat ini aku menangis

meringis

dan teriris

*

aku masih menegakkan kepala

karena ketika mereka berpesta

ketika tahun baru masehi  tiba

alhamdulillah, aku masih di rumah saja

*

jumat ini ku menangis

meratapi punahnya kepedulian kita

menyesali rendahnya kesetiakawanan kita

sesama umatNya.

*

jumatkumenangis

jumat aku menangis

jumatku menangis

*

ya jumat ini kumenangis

dan berdoa

semoga mereka diberikan kekuatan hati dan iman

melawan zionis laknatullah itu

semoga mereka diteguhkan pendiriannya

dan tetap dijalanNya

*

jumat ini kuberdoa

serta kemenangan bersama mereka

yang harus mempertahankan Aqsa

Amien.





malam ini kuturun (dari Puncak)

21 12 2008

malam ini ku turun
menggelindingkan innova kantor
meski kasur dan dinginnya malam menggoda disana
malam ini ku turun

malam ini ku turun
memacu roda-roda, melawan kantuk
jam sebelas lewat beberapa
malam ini ku turun

malam ini ku turun
mencari kehangatan, kehangatan keluarga
meski kutahu mereka tengah bermimpi
malam ini ku turun

malam ini ku turun
menengok wajah-wajah lucu
kutahu mereka tadi menunggu, menanyakan papanya
malam ini ku turun

malam ini ku turun
ku mampir mencari pisang kesukaan mereka
tak ada..”euweuh” kata penjualnya
malam ini ku turun

malam ini ku turun
dengan hati-hati karena banyak pengemudi gila
yang memacu kendaraan mereka secepat-cepatnya
malam ini ku turun

malam ini ku turun
ditemani siluet merah di ujung langit, tak biasa
indah kurasa, damai kusapa
perlahan kubangunkan dia, aku ada
malam ini ku turun.

—cinangka 2 am 17 des 08—





T e r p e c a h

10 10 2008

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

a l h a m d u l i l l a h

kau bangunkan aku pagi ini dengan caramu

kau tunjukkan padaku titahmu dengan jelas, sangat jelas di dalam tidurku

dalam mimpiku

di ujung pagi

jelas kulihat nama surat itu

al-insyiqaaq

t e r p e c ah

sejumput ilustrasi kau tampilkan

durian yang terbelah

pecah

sungguh aku bersyukur padamu ya Allah

kau masih mencintai hambaMu yang hina, kotor, dan bergelimang dosa

ya itulah surat delapan empat berisi dua puluh lima ayat

b a c a

dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

apabila langit terpecah

karena mematuhi Tuhannya dan sudah semestinya

dan apabila bumi diratakan

dan melemparkan apa yang ada padanya dan menjadi kosong

karena mematuhi Tuhannya dan sudah semestinya

hai manusia, sesungguhnya engkau berusaha sungguh-sungguh menuju kepada Tuhanmu maka engkau akan menemuiNya

maka adapun orang yang diberikan kitab amalnya dari sebelah kanannya

maka dia akan dihisab dengan hisaban yang mudah

dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira

dan adapun orang yang diberikan kitab amalnya dari belakangnya

maka dia akan berteriak “celakalah aku!”

dan dia masuk dalam neraka yang menyala-nyala

karena sesungguhnya dia dahulu gembira dengan keluarganya

sesungguhnya dia mengira bahwa tidak akan kembali (kepada Tuhannya)

sebenarnya, sesungguhnya Tuhanya melihat dia

maka aku bersumpah dengan Syafaq (cahaya merah diwaktu senja)

demi malam dan apa-apa yang diselubunginya\

demi bulan apabila telah purnama

sesungguhnya kamu akan menumpuh selapis demi selapis

maka mengapa mereka tidak beriman

apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak sujud

bahkan orang-orang kafir itu mendustakan

dan Allah lebih mengetahui apa-apa yang mereka sembunyikan

maka peringatkanlah mereka dengan azab yang pedih

kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.

Maha benar Allah dengan segala firmannya.

______





Idul Fitri, Aku, dan Negeriku

30 09 2008
pasar teleng (teleang, mereng, miring)

dulu aku begitu yakin,

tidak mesti pulang kampung ketika fitri tiba,

cukup dalam hati saja.

kini ku tak yakin akan semua itu,

menghemat belanja dan berhitung semata,

sesuatu yang tak mesti diraba, tapi juga perlu dirasa.

ibu ku telah pergi

ku tak sering menengoknya dulu

kekampungku

meski hari raya

karena kukira, berhemat untuk adik-adikku jauh lebih baik

dari sekedar menghamburkan biaya untuk berkumpul saudara.

keliru

mungkin saja,

meski aku cukup bahagia

ketika musim sakit dan nikah tiba

aku ada disana untuk mereka, ibu, ayah dan saudaraku.

ibu ku telah pergi,

kini aku merasa sunyi,

tak ada gairah pergi

ke kampung halaman yang juga semakin sepi.

beberapa kali fitri lewat,

meski anakku tidak bertanya mau lebaran dimana,

aku merasa lega bisa di rumahku saja,

tapi itu dulu.

kini ketika kuingat lagi

ibuku telah pergi

seharusnya aku disana

lebih sering dan sering dan sering,

tapi itulah anak manusia

harus menjalani hidupnya tanpa harus siap apa-apa

memang semuanya dijalani saja.

namun ketika negeri ku juga ikut papa

aku sendiri gamang

tak tahu lagi mana pegangan,

mana tongkat yang mungkin membawa rebah.

memang ku harus pasrah,

tengadah tanpa daya

tersiram fitri dan gaung takbirnya

disini, bersama anak dan istriku

di rumah kami, di negeri kami, di dunia kami

selamat idul fitri, tak usah semuanya disesali

karena kau tak pernah tahu

apa yang terbaik dan terburuk bagimu

hanya Allah lah yang Maha Tahu itu.

Sawangan, Malam Idul Fitri 1429H





Sungguh, Tuhan Masih (sangat) sayang kita!

8 08 2008

“Cukup biadab”, aku jawab

ketika kuli tinta bertanya

tentang tayangan itu

visual perjuangan orang-orang menghadapi maut

ketika pesawat naas menukik laut

ketika “Allahu AKbar” bergema di cockpit sempit

ketika rekayasa dilomba menarik pemirsa

hingga melupakan dan tidak menyisakan sedikit pun rasa manusia

***

“cukup biadab” kutak ragu

luka, perih, kecewa, hingga trauma yang baru saja ditutup perlahan

tiba-tiba dibuka

paksa

tanpa bisa berupaya pura-pura tuli dan buta

karena mereka mengumbarnya dari pagi, siang, sore, malam, hingga pagi lagi

tanpa peri

demi rating televisi

mulai berita biasa, insert-insertan, seleb-seleban, dan entah apa lagi namanya

merujuk siapa saja

anak, pacar, isteri, ibu, ayah, mertua hingga sahabat para korbannya

***

“cukup biadab” yakinku

memaksa orang-orang kembali meringis menahan pilu

terisak, tersedan, dan telentang tak berdaya

tiada ruang lari dan sembunyi

kemanapun berita itu mengejar

di dapur, di ruang keluarga, di lorong rumah sakit hingga warung soto dan indo mie

tak ada tempat lari

dari kebiadaban orang sebangsanya

yang mengejar rating semata

yang ingin mendulang iklan dan uang sebanyak-banyaknya

di atas luka dan duka mereka

***

ah ada kah ruang untuk sembunyi

dari murka ALlah yang maha Pasti?

kita hanya tinggal berdoa

dari tumpukan masalah demi masalah negeri

agar bangsa kita masih di sayang NYa

amin

aaccchh, rasanya kita tak perlu meminta padaNYA

justru kita wajib bersyukur

karena sungguh Allah sangat sayang sama kita

mestinya dengan tingkat kebejatan yang ada

kita tidak pantas semulia ini

kita sungguh lupa diri

——kamar sempit di sawangan depok, siang sabtu sambil menunggu anakku—-





Pendaran Lampu, Lampion, dan Neon itu

20 06 2008

pendaran lampu, lampion dan neon dari sela pepohonan kulihat begitu indah

malam itu

aku termangu

“mase, mase, mase” pelayan restoran jepang itu serempak menyambut tetamu

mereka memang serempak, begitu pula terasa kompak bahwa mereka tidak mengerti kata yang diucapkan

“irashaimase!” begitu seharusnya dalam nihongo kata itu dilafazkan

dengan penuh harapan akan kemurahan hati yang mau makan

seperti ketika saya memasuki rumah makan cepat saji “Ten Ya” dimana-mana

Harajuku, Sinjhuku, GInza, hingga pelosok kecil Akihabara

bukan asal-asalan

***

Pendaran lampu, lampion, dan neon memantul dari atap mobil kulihat begitu indah

malam itu,

aku sendiri, sunyi

kupipil edamame itu satu demi satu

masuk ke mulutku, keperutku, terasa dingin mengalir

bahan baku pembuat tahu dan tempe itu demikian gurih, asin, dan bergizi

tapi itu disini, bukan di Hachioji

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu yang tersusun rapi kulihat begitu indah

sudah sepuluh malam

tapi masih ramai orang datang

sangat sedikit yang pulang

ya…mereka menahan diri disini, “hang-out” habis-habisan dan seakan ogah pulang

meski waktu menjelang

mereka penuhi cafe, resto, dan toko

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat begitu indah

tapi mengapa mereka disini?

masih di hari kerja

apakah memang mereka harus berfoya-foya setiap harinya?

bukan hanya di akhir pekan dengan keluarga

membuat ku tak percaya negeri ini sedang sekarat meronta

jika mereka terus tertawa seakan lupa masih banyak orang papa

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat masih indah

disela suara nyanyian “Yo zura nomuko”

“arekara bokutachiwa nandika washinjite kore takana…”

sejenak lagi, lagi-lagi kuterhenyak

jika kuingat

negeri ku meronta, namun mereka tak merasa

memang itulah kehidupan

tapi apa memang harus demikian?

***

pendaran lampu, lampion dan neon-neon itu masih kulihat indah

tapi sampai kapan?

kudekati, kuhampiri

ah..itu lampu biasa yang boros energi

disusun berdelapan serupa untaian

dari jauh kulihat begitu indah

kudekati, dan kuhampiri

ternyata purnama di atas sana tiada bandingannya

di sudut pelosok Paris van Java

***

ku pergi menjauh

ke seberang jalan menunggu

bukan menunggu engkau kekasih

menunggu angkot stasiun hotelku disitu

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat masih indah

dari balik kaca jendela

dari jauh, ya dari jauh…

sejauh hatimu kepada mereka yang papa

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat memang masih indah.

+++





car free day….bodo amat!

26 05 2008

car free day

hanya sekali dalam sebulan, di minggu terakhir

itupun dari jam enam pagi sampai jam dua siang

demi memberikan kesempatan

kepada rakyat untuk menikmati jalan protokol

yang sehari-hari jarang mereka masuki

***

kemarin pula

kembali republik ini menjadi saksi

atas susahnya menegakkan disiplin diri

baik untuk kita, pemimpin, dan penjaga repbulik

***

disaat contoh dan suri teladan harus dibangkitkan

disaat pemimpin berupaya mengingatkan

disaat itu pula para hamba penguasa

menyalahgunakan

***

mereka kembali memamerkan kekuasaan

sayangnya itu terjadi di depan banyak pasang mata

anak manusia Indonesia

yang dahaga…..!

+++

berita terkait klik disini





Bersama kita bisa apa?

21 05 2008

setiap kali tiba rasa pesimis

tiap kali pula aku berusaha menepis

setiap kali mereka bangkit optimis

tiap kali pula aku terpaksa sinis

bukan mau tampil beda

tapi memang mereka belum memahaminya

betapa besar masalah bangsa kita

***

giliran aku semangat

malah mereka yang mencegat

sampai-sampai aku tak kuat

***

mungkinkah kebangkitan itu datang?

jika kita tidak pernah menyentuh masalah utama bangsa

mungkinkah kita memperbaiki nasib?

jika yang diperbaiki bukan masalah prinsip

***

sungguh Tuhan, bukakanlah hati dan telinga mereka

akan apa yang terjadi sesungguhnya

di tingkat rakyat jelata, juga sebagian aparatnya

yang sudah tidak cukup lagi upahnya

untuk memenuhi hidup dan menghidupkan harga dirinya

***

memang masih banyak yang berkata

“bersama kita bisa”

bisa apa?

+++