lama
lama sekali
aku tidak kesini
berpuisi
tak menulis itu tak menulis ini
lama, lama sekali
lama
lama sekali
aku tidak kesini
berpuisi
tak menulis itu tak menulis ini
lama, lama sekali
kemaren
hening
tak ada suara kicau burung
tak ada bunyi uwir-uwir
semua diam
di cangkringan
kemaren rame
jalan penuh orang
polisi terserak
motor mobil sesak
mereka menonton
saya kira pertunjukan
ternyata penggerebakan
di utara klatenan
hari ini
gaduh
aku terbangun dari nyenyakku
hujan itu
tercurah dari langit
sangat banyak
sebagai bukti rahmatNya
dan juga ujian
mampukah kita
di jakarta
besok?
aku tak tahu
apa yang akan terjadi
disini dan disana
kemaren, hari ini, dan esok lagi
hening
akan kuingat indahnya
akan kuingat sepinya
akan kuingat heningnya
heningMu
Tuhanku
di hatiku.
Innalillahiwainnailaihirojiun.
Gus Dur telah pergi.
Jauh, tetap terasa dekat.
Bukan karena pemimpin umat
BUkan pula karena mantan Presiden
BUkan pula karena pernah dilengserkan
atau “nyelenehnya”
Bagi saya,
karena berani berbeda pendapat.
Janganlah lupa
Di era topi baja
Ia menyelorohkan banyak hal
Menentang penguasa
Meski terkadang sebatas tinta
Atau ucapan belaka
BUkan semata ada,
Tetapi, mAsih banyakkah anak2 Indoensia seperti dia?
Berani tampil beda
Meski tidak harus memiliki massa
Semoga “Gus Dur – Gus Dur” muda
Smakin banyak yang berani
Tanpa takut apapun juga
Demi keadilan dan kemashalatan negeri
***
Depok, 31 Des 09

kulihat disebelah kiri wall ku
ada “1 friend request”
ku klik, dan kulihat foto seorang wanita berkacamata
ia telah “add” aku untuk menjadi teman fb nya
ku tak tahu ia siapa
sampai kubuka inbox dan disana “aku dr sma1 bukittingi angkatan 83″
hm ku approve dan segera bercanda ria
itu tiga hari lalu
kami terus bertukar cerita
di chatting room atau wall terbuka
tak ada syak wasangka
sampai tadi malam
ketika inbox ku mendapat pesan singkat dari seorang teman
ia boss maria
ia tuturkan maria telah tiada tertimpa reruntuhan gedung kantornya
ya maria esemasatu bukittinggi delapantiga
telah dipanggilNya
ketika ia baru saja gembira dengan pekerjaan aspalnya
***
kawan baruku
teman ef be ku
ku kehilangan engkau
belum sempat kenal banyak dan lebih lama
kau tinggalkan fotomu berkaca mata gelap
kaca mata yang melambangkan kesedihan
kaca mata yang tidak memungkinkan kami membaca hatimu
maria, maria, goretti
kau tinggalkan kami
bersama ratusan anak manusia minang dan indonesia lainnya
dalam duka dan sepi yang tiada jelas tepibatasnya
semoga engkau tenang di alam baka sana
kami yakin itu
selamat jalan pekerja keras
***
sawangan, 1 oktober 09

Sejujurnya
Tadi pagi kutanya seseorang
“Betul Bang, tidak ada” jawabnya
“Kamu yakin? ” balasku
“Iya” tegasnya
Aku nelangsa.
.
.
Sorenya, seseorang yang menegurku
“Masak iya?” tanyaku
“Betul Bang!” jawabnya juga
Aku nestapa.
.
.
Sekarang
Belum lewat
Belum tamat
Masih 30 September.
Tadi pagi bangsaku lupa menaikkan bendera itu
Sore ini, malam nanti, esok pagi, hinga entah nanti
Mungkin kita memang harus menggereknya
Setengah tiang saja
Untuk pahlawan revolusi itu dan korban lainnya di pelosok nusantara
Juga untuk ratusan nyawa yang terhimpit reruntuhan kayu, tembok dan batu bata
Di Minangkabau sana.
(30 September 2009, di dinginnya Depok mengenang gempa 7,6 R di bumi minangku)
hujan
hujan, hujanlah, turunlah yang banyak
ke bumi Indonesia
karena kami memang gerah dan kepanasan
luar dalam
*
hujan
hujan, hujanlah, turunlah yang banyak
ke tengah kota
karena got kami memang mampat dan bersampah
dimana mana
*
hujan
hujan, hujanlah, turunlah yang banyak
ke pinggiran juga
karena disana sama saja, tak ada yang peduli
sampah masuk kali
*
hujan
hujan, hujanlah, turunlah yang banyak
sirami jiwa kami yang kerontang
yang memilih mematikan aspirasi dan kritikan
rakyatnya sendiri
*
hujan
hujan, hujanlah, turunlah yang banyak
beri pelajaran mereka yang tamak dan jumawa
yang mengizinkan mangrove sirna
di utara Jakarta dan Bandara
*
hujan
hujan, hujanlah, turunlah yang banyak
dinginkan hati dan kepala kami yang saling caci
hanya demi sebuah kursi
yang nanti diganti janji-janji
*
hujan
hujan, hujanlah, turunlah yang banyak
ciptakanlah macet
karena hanya dengan itu kami bisa mengerti
arti waktu dan momentum yang terbuang lagi
*
hujan
hujan, hujanlah, turunlah yang banyak
meski ketika hujan hatiku iba
karena Indonesia masih saja disini
bukan seperti mereka
sudah jauh disana
******
(lapangan banteng, siang yang putih, 8 juni 09)
jumat itu, tiga belas maret kosong sembilan
kegembiraan itu dan nikmatMu, kurasakan dari pagi hingga jam delapan
bubur itu, kusikat habis dan masih ditambahi martabak
penat dan capek itu, menambah semangat untuk makan enak
***
sayup kudengar di telingaku
“semir om?“, seraut wajah kuyu berbaju biru dibelakang mejaku
anak gadis kecil bertas pinggang kecil, memanggil
“nanti ya!” jawabku, merasa terusik
“leave me alone, jangan ganggu aku dulu!” begitu rayuan setan menggedor batinku
“om bagi martabaknya nanti ya, aku kepengen!” suara itu meneruskan rengekannya
kudiam, kulanjutkan membunuh rasa lapar yang lama kutahan
kunikmati bubur hangat, tapi mulai tersendat
“kamu punya semir apa?” tanyaku memanggil dia yang sudah kepinggir
“kiwi om!” dia kembali mendekat
sepatuku kulepas, karena memang kotor
kemaren kehujanan di tempat parkir bertanah basah
pun sudah lama tak kusemir
ia gembira dan membawanya ke temannya
***
cekatan mereka
dengan tangan membalur bagian sepatu hitamku satu-satunya
dengan tawa ria mereka bekerja sama, sama-sama bekerja
anak lelaki lain mengincar, menawarkan jasanya
***
diam-diam kupesankan satu lagi martabak
ku keluarkan kamera
kujepretkan ke wajah-wajah lusuh dan kumuh itu
berkali-kali
sempat kaget, kemudian mereka mendekat dan bergaya
cukup lama kutunggu sepatuku
meski bubur dan minumku sudah tandas
kunikmati nikmatMu
kuingat hariku, Jumatku, dan kesejukanMu
***
“udah aja” pastiku ketika melihat kilatan hitam
kupanggil, siska namanya
“nih martabaknya, makan rame-rame ya!” tegasku
siska menyambar termasuk uang beberapa lembar, tapi masih di sekitar
kulihat teman siska melongo menunggu martabaknya dibuka
***
“om katanya buat ibunya” anak kecil lainnya berjaket hijau memelas
kupanggil siska dan kusuruh buka
“katanya kamu ingin makan martabak, makan sama-sama ya” tukasku
siska akhirnya menurut dan sekejap martabak mereka santap
nikmatya ikut kurasakan
mereka lalu kutinggalkan
mereka menyusul ku
“ada apa lagi?” mbatinku
kaca pintu kuturunkan
“om, kok kami difoto? mau dimasukin koran ya?” tanya si jaket hijau
“gak hanya untuk om saja” tapi aku membatin juga
“udah ya, om pulang dulu, anak om menunggu!”
si jaket hijau mematung, ragu
“om kapan datang lagi?” tanya nya sendu
membuat ku ragu dan terdiam bisu
dadaku sesak, ingin meledak
“nanti om pasti datang lagi!” pelan kujawab
mulutku terkunci, mata berkaca
“hati-hati dijalan ya om!” si jaket hijau memberikan salam perpisahan
kutahu salamnya tulus, menyejukkan
bukan karena bubur, martabak atau semir sepatu
tapi keluguan dan ketulusan anak-anak sebaya anakku, anakmu, anak-anak kita.

siska cs bergembira menyemir sepatu saya


tetap ceria sambilkerja
depok, minggu malam, 15 maret kosong sembilan
jumat ini aku menangis
dijewer khotib
*
mengapa aku tak benar-benar peduli
darah, pecahan peluru, tulang, dan bongkahan batu
di badan mereka, dikulit anaknya, terpatah hingga kelihatan putihnya, menimpa
*
mematikan
mencabut nyawa
membuat cacat
dan mencerai beraikan keluarga
*
zionis laknatullah itu
menerbarkan teror dan kebencian
dengan kelicikan tingkat tinggi
hingga amerika saja tidak berdaya
apalagi mereka di jalur gaza
*
mengapa aku tidak peduli?
engkau juga.
*
dimalam tahun baru hijriah
bom dan mitraliur memecah
dinding dinding rumah
*
sekarang musim dingin tiba
wind chill akan sangat menyiksa
karena rumah mereka tanpa jendela
kalau pun ada
bolong dimana-mana
tak mungkin menahan cuaca
*
jumat ini aku menangis
meringis
dan teriris
*
aku masih menegakkan kepala
karena ketika mereka berpesta
ketika tahun baru masehi tiba
alhamdulillah, aku masih di rumah saja
*
jumat ini ku menangis
meratapi punahnya kepedulian kita
menyesali rendahnya kesetiakawanan kita
sesama umatNya.
*
jumatkumenangis
jumat aku menangis
jumatku menangis
*
ya jumat ini kumenangis
dan berdoa
semoga mereka diberikan kekuatan hati dan iman
melawan zionis laknatullah itu
semoga mereka diteguhkan pendiriannya
dan tetap dijalanNya
*
jumat ini kuberdoa
serta kemenangan bersama mereka
yang harus mempertahankan Aqsa
Amien.
malam ini ku turun
menggelindingkan innova kantor
meski kasur dan dinginnya malam menggoda disana
malam ini ku turun
malam ini ku turun
memacu roda-roda, melawan kantuk
jam sebelas lewat beberapa
malam ini ku turun
malam ini ku turun
mencari kehangatan, kehangatan keluarga
meski kutahu mereka tengah bermimpi
malam ini ku turun
malam ini ku turun
menengok wajah-wajah lucu
kutahu mereka tadi menunggu, menanyakan papanya
malam ini ku turun
malam ini ku turun
ku mampir mencari pisang kesukaan mereka
tak ada..”euweuh” kata penjualnya
malam ini ku turun
malam ini ku turun
dengan hati-hati karena banyak pengemudi gila
yang memacu kendaraan mereka secepat-cepatnya
malam ini ku turun
malam ini ku turun
ditemani siluet merah di ujung langit, tak biasa
indah kurasa, damai kusapa
perlahan kubangunkan dia, aku ada
malam ini ku turun.
—cinangka 2 am 17 des 08—
Recent Comments