lama

21 01 2012

lama

lama sekali

aku tidak kesini

berpuisi

tak menulis itu tak menulis ini

lama, lama sekali





Cangkringan-Klaten-Jakarta

24 06 2010

kemaren
hening
tak ada suara kicau burung
tak ada bunyi uwir-uwir
semua diam
di cangkringan

kemaren rame
jalan penuh orang
polisi terserak
motor mobil sesak
mereka menonton
saya kira pertunjukan
ternyata penggerebakan
di utara klatenan

hari ini
gaduh
aku terbangun dari nyenyakku
hujan itu
tercurah dari langit
sangat banyak
sebagai bukti rahmatNya
dan juga ujian
mampukah kita
di jakarta

besok?
aku tak tahu
apa yang akan terjadi
disini dan disana

kemaren, hari ini, dan esok lagi
hening
akan kuingat indahnya
akan kuingat sepinya
akan kuingat heningnya
heningMu
Tuhanku
di hatiku.





Listrik, Pasien, dan Kita MATI

27 01 2010

Dua delapan Agustus di Kuta, Bali

Kumasuki café itu

Baru duduk dan lihat menu

Listrik mati;

*

Bulan lalu di  Ngagel, Surabaya

Kumasuki warung soto itu

Sedang nikmati makan

Listrik juga,

Mati;

**

Sekarang aku di Cinere, Jakarta

Kumasuki mall itu

Cari-cari buku dan lagu

Lagi,

Lampu mati;

***

Besok di RSUD kota anu

Pasien gawat darurat

Baru dirawat

Lampu mati,

Ia juga,

MATI!





Gus Dur Telah Pergi

31 12 2009

Innalillahiwainnailaihirojiun.

Gus Dur telah pergi.
Jauh, dan tak kembali.
Tetapi bagi kami, kaum yang suka berbeda pendapat.
Tak akan lupa, dan semoga tetap ingat
Beliau adalah teladan.
Guru dan suhu yang tak habis ilmunya untuk ditimba.
Intelek, berani, ceplas-ceplos, dan penuh humor.
Tidak banyak yang begini.

Gus Dur telah pergi.
Jauh, tetap terasa dekat.
Bukan karena pemimpin umat
BUkan pula karena mantan Presiden
BUkan pula karena pernah dilengserkan
atau “nyelenehnya”
Bagi saya,
karena berani berbeda pendapat.

Janganlah lupa
Di era topi baja
Ia menyelorohkan banyak hal
Menentang penguasa
Meski terkadang sebatas tinta
Atau ucapan belaka

Walaupun dari atas kursi roda
dengan  “empat mata”.

BUkan semata ada,
Tetapi, mAsih banyakkah anak2 Indoensia seperti dia?
Berani tampil beda
Meski tidak harus memiliki massa

Semoga “Gus Dur – Gus Dur” muda
Smakin banyak yang berani
Tanpa takut apapun juga
Demi keadilan dan kemashalatan negeri

***
Depok, 31 Des 09





In Memoriam Maria Goretti (Eng)

1 10 2009

maria goretti

kulihat disebelah kiri wall ku

ada “1 friend request”

ku klik, dan kulihat foto seorang wanita berkacamata

ia telah “add” aku untuk menjadi teman fb nya

ku tak tahu ia siapa

sampai kubuka inbox dan disana “aku dr sma1 bukittingi angkatan 83″

hm ku approve dan segera bercanda ria

itu tiga hari lalu

kami terus bertukar cerita

di chatting room atau wall terbuka

tak ada syak wasangka

sampai tadi malam

ketika inbox ku mendapat pesan singkat dari seorang teman

ia boss maria

ia tuturkan maria telah tiada tertimpa reruntuhan gedung kantornya

ya maria esemasatu bukittinggi delapantiga

telah dipanggilNya

ketika ia baru saja gembira dengan pekerjaan aspalnya

***

kawan baruku

teman ef be ku

ku kehilangan engkau

belum sempat kenal banyak dan lebih lama

kau tinggalkan fotomu berkaca mata gelap

kaca mata yang melambangkan kesedihan

kaca mata yang tidak memungkinkan kami membaca hatimu

maria, maria, goretti

kau tinggalkan kami

bersama ratusan anak manusia minang dan indonesia lainnya

dalam duka dan sepi yang tiada jelas tepibatasnya

semoga engkau tenang di alam baka sana

kami yakin itu

selamat jalan pekerja keras

***

sawangan, 1 oktober 09





Setengah Tiang Saja kok Lupa!

30 09 2009

Sejujurnya

Tadi pagi kutanya seseorang

“Betul Bang, tidak ada” jawabnya

“Kamu yakin? ” balasku

“Iya” tegasnya

Aku nelangsa.

.

.

Sorenya, seseorang yang menegurku

“Masak iya?” tanyaku

“Betul Bang!” jawabnya juga

Aku nestapa.

.

.

Sekarang

Belum lewat

Belum tamat

Masih 30 September.

Tadi pagi bangsaku lupa menaikkan bendera itu

Sore ini, malam nanti, esok pagi, hinga entah nanti

Mungkin kita memang harus menggereknya

Setengah tiang saja

Untuk pahlawan revolusi itu dan korban lainnya di pelosok nusantara

Juga untuk ratusan nyawa yang terhimpit reruntuhan kayu, tembok dan batu bata

Di Minangkabau sana.

(30 September 2009, di dinginnya Depok mengenang gempa 7,6 R di bumi minangku)





Hujan, Ketika Hujan Hatiku pun Iba.

8 06 2009

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

ke bumi Indonesia

karena kami memang gerah dan kepanasan

luar dalam

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

ke tengah kota

karena got kami memang mampat dan bersampah

dimana mana

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

ke pinggiran juga

karena disana sama saja, tak ada yang peduli

sampah masuk kali

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

sirami jiwa kami yang kerontang

yang memilih mematikan aspirasi dan kritikan

rakyatnya sendiri

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

beri pelajaran mereka yang tamak dan jumawa

yang mengizinkan mangrove sirna

di utara Jakarta dan Bandara

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

dinginkan hati dan kepala kami yang saling caci

hanya demi sebuah kursi

yang nanti diganti janji-janji

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

ciptakanlah macet

karena hanya dengan itu kami bisa mengerti

arti waktu dan momentum yang terbuang lagi

*

hujan

hujan, hujanlah, turunlah yang banyak

meski ketika hujan hatiku iba

karena Indonesia masih saja disini

bukan seperti mereka

sudah jauh disana

******

(lapangan banteng, siang yang putih, 8 juni 09)





bubur ayam, martabak, dan semir sepatu

15 03 2009

jumat itu, tiga belas maret kosong sembilan

kegembiraan itu dan nikmatMu, kurasakan dari pagi hingga jam delapan

bubur itu, kusikat habis dan masih ditambahi martabak

penat dan capek itu, menambah semangat untuk makan enak

***

sayup kudengar di telingaku

semir om?“, seraut wajah kuyu berbaju biru dibelakang mejaku

anak gadis kecil bertas pinggang kecil, memanggil

“nanti ya!” jawabku, merasa terusik

“leave me alone, jangan ganggu aku dulu!” begitu rayuan setan menggedor batinku

om bagi martabaknya nanti ya, aku kepengen!” suara itu meneruskan rengekannya

kudiam, kulanjutkan membunuh rasa lapar yang lama kutahan

kunikmati bubur hangat, tapi mulai tersendat

“kamu punya semir apa?” tanyaku memanggil dia yang sudah kepinggir

“kiwi om!” dia kembali mendekat

sepatuku kulepas, karena memang kotor

kemaren kehujanan di tempat parkir bertanah basah

pun sudah lama tak  kusemir

ia gembira dan membawanya ke temannya

***

cekatan mereka

dengan tangan membalur bagian sepatu hitamku satu-satunya

dengan tawa ria mereka bekerja sama, sama-sama bekerja

anak lelaki lain mengincar, menawarkan jasanya

***

diam-diam kupesankan satu lagi martabak

ku keluarkan kamera

kujepretkan ke wajah-wajah lusuh dan kumuh itu

berkali-kali

sempat kaget, kemudian mereka mendekat dan bergaya

cukup lama kutunggu sepatuku

meski bubur dan minumku sudah tandas

kunikmati nikmatMu

kuingat hariku, Jumatku, dan kesejukanMu

***

“udah aja” pastiku ketika melihat kilatan hitam

kupanggil, siska namanya

“nih martabaknya, makan rame-rame ya!” tegasku

siska menyambar termasuk uang beberapa lembar, tapi masih di sekitar

kulihat teman siska melongo menunggu martabaknya dibuka

***

“om katanya buat ibunya” anak kecil lainnya berjaket hijau memelas

kupanggil siska dan kusuruh buka

“katanya kamu ingin makan martabak, makan sama-sama ya” tukasku

siska akhirnya menurut dan sekejap martabak mereka santap

nikmatya ikut kurasakan

mereka lalu  kutinggalkan

mereka menyusul ku

“ada apa lagi?” mbatinku

kaca pintu kuturunkan

“om, kok kami difoto? mau dimasukin koran ya?” tanya si jaket hijau

“gak hanya untuk om saja” tapi aku membatin juga

“udah ya, om pulang dulu, anak om menunggu!”

si jaket hijau mematung, ragu

“om kapan datang lagi?” tanya nya sendu

membuat ku ragu dan terdiam bisu

dadaku sesak, ingin meledak

“nanti om pasti datang lagi!” pelan kujawab

mulutku terkunci, mata berkaca

hati-hati dijalan ya om!” si jaket hijau memberikan salam perpisahan

kutahu salamnya tulus, menyejukkan

bukan karena bubur, martabak atau semir sepatu

tapi keluguan dan ketulusan  anak-anak sebaya anakku, anakmu, anak-anak kita.

siska cs bergembira menyemir sepatu saya

siska cs bergembira menyemir sepatu saya

mereka pun bergaya, lupa martabaknya

mereka pun bergaya, lupa martabaknya
tetap ceria menggosok sepatu saya

tetap ceria sambilkerja

depok, minggu malam, 15 maret kosong sembilan





jumatkumenangis

9 01 2009

jumat ini aku menangis

dijewer khotib

*

mengapa aku tak benar-benar peduli

darah, pecahan peluru, tulang, dan bongkahan batu

di badan mereka, dikulit anaknya, terpatah hingga kelihatan putihnya, menimpa

*

mematikan

mencabut nyawa

membuat cacat

dan mencerai beraikan keluarga

*

zionis laknatullah itu

menerbarkan teror dan kebencian

dengan kelicikan tingkat tinggi

hingga amerika saja tidak berdaya

apalagi mereka di jalur gaza

*

mengapa aku tidak peduli?

engkau juga.

*

dimalam tahun baru hijriah

bom dan mitraliur memecah

dinding dinding rumah

*

sekarang musim dingin tiba

wind chill akan sangat menyiksa

karena rumah mereka tanpa jendela

kalau pun ada

bolong dimana-mana

tak mungkin menahan cuaca

*

jumat ini aku menangis

meringis

dan teriris

*

aku masih menegakkan kepala

karena ketika mereka berpesta

ketika tahun baru masehi  tiba

alhamdulillah, aku masih di rumah saja

*

jumat ini ku menangis

meratapi punahnya kepedulian kita

menyesali rendahnya kesetiakawanan kita

sesama umatNya.

*

jumatkumenangis

jumat aku menangis

jumatku menangis

*

ya jumat ini kumenangis

dan berdoa

semoga mereka diberikan kekuatan hati dan iman

melawan zionis laknatullah itu

semoga mereka diteguhkan pendiriannya

dan tetap dijalanNya

*

jumat ini kuberdoa

serta kemenangan bersama mereka

yang harus mempertahankan Aqsa

Amien.





malam ini kuturun (dari Puncak)

21 12 2008

malam ini ku turun
menggelindingkan innova kantor
meski kasur dan dinginnya malam menggoda disana
malam ini ku turun

malam ini ku turun
memacu roda-roda, melawan kantuk
jam sebelas lewat beberapa
malam ini ku turun

malam ini ku turun
mencari kehangatan, kehangatan keluarga
meski kutahu mereka tengah bermimpi
malam ini ku turun

malam ini ku turun
menengok wajah-wajah lucu
kutahu mereka tadi menunggu, menanyakan papanya
malam ini ku turun

malam ini ku turun
ku mampir mencari pisang kesukaan mereka
tak ada..”euweuh” kata penjualnya
malam ini ku turun

malam ini ku turun
dengan hati-hati karena banyak pengemudi gila
yang memacu kendaraan mereka secepat-cepatnya
malam ini ku turun

malam ini ku turun
ditemani siluet merah di ujung langit, tak biasa
indah kurasa, damai kusapa
perlahan kubangunkan dia, aku ada
malam ini ku turun.

—cinangka 2 am 17 des 08—








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.