pendaran lampu, lampion dan neon dari sela pepohonan kulihat begitu indah
malam itu
aku termangu
“mase, mase, mase” pelayan restoran jepang itu serempak menyambut tetamu
mereka memang serempak, begitu pula terasa kompak bahwa mereka tidak mengerti kata yang diucapkan
“irashaimase!” begitu seharusnya dalam nihongo kata itu dilafazkan
dengan penuh harapan akan kemurahan hati yang mau makan
seperti ketika saya memasuki rumah makan cepat saji “Ten Ya” dimana-mana
Harajuku, Sinjhuku, GInza, hingga pelosok kecil Akihabara
bukan asal-asalan
***
Pendaran lampu, lampion, dan neon memantul dari atap mobil kulihat begitu indah
malam itu,
aku sendiri, sunyi
kupipil edamame itu satu demi satu
masuk ke mulutku, keperutku, terasa dingin mengalir
bahan baku pembuat tahu dan tempe itu demikian gurih, asin, dan bergizi
tapi itu disini, bukan di Hachioji
***
pendaran lampu, lampion, dan neon itu yang tersusun rapi kulihat begitu indah
sudah sepuluh malam
tapi masih ramai orang datang
sangat sedikit yang pulang
ya…mereka menahan diri disini, “hang-out” habis-habisan dan seakan ogah pulang
meski waktu menjelang
mereka penuhi cafe, resto, dan toko
***
pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat begitu indah
tapi mengapa mereka disini?
masih di hari kerja
apakah memang mereka harus berfoya-foya setiap harinya?
bukan hanya di akhir pekan dengan keluarga
membuat ku tak percaya negeri ini sedang sekarat meronta
jika mereka terus tertawa seakan lupa masih banyak orang papa
***
pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat masih indah
disela suara nyanyian “Yo zura nomuko”
“arekara bokutachiwa nandika washinjite kore takana…”
sejenak lagi, lagi-lagi kuterhenyak
jika kuingat
negeri ku meronta, namun mereka tak merasa
memang itulah kehidupan
tapi apa memang harus demikian?
***
pendaran lampu, lampion dan neon-neon itu masih kulihat indah
tapi sampai kapan?
kudekati, kuhampiri
ah..itu lampu biasa yang boros energi
disusun berdelapan serupa untaian
dari jauh kulihat begitu indah
kudekati, dan kuhampiri
ternyata purnama di atas sana tiada bandingannya
di sudut pelosok Paris van Java
***
ku pergi menjauh
ke seberang jalan menunggu
bukan menunggu engkau kekasih
menunggu angkot stasiun hotelku disitu
***
pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat masih indah
dari balik kaca jendela
dari jauh, ya dari jauh…
sejauh hatimu kepada mereka yang papa
***
pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat memang masih indah.
+++



Recent Comments