Pendaran Lampu, Lampion, dan Neon itu

20 06 2008

pendaran lampu, lampion dan neon dari sela pepohonan kulihat begitu indah

malam itu

aku termangu

“mase, mase, mase” pelayan restoran jepang itu serempak menyambut tetamu

mereka memang serempak, begitu pula terasa kompak bahwa mereka tidak mengerti kata yang diucapkan

“irashaimase!” begitu seharusnya dalam nihongo kata itu dilafazkan

dengan penuh harapan akan kemurahan hati yang mau makan

seperti ketika saya memasuki rumah makan cepat saji “Ten Ya” dimana-mana

Harajuku, Sinjhuku, GInza, hingga pelosok kecil Akihabara

bukan asal-asalan

***

Pendaran lampu, lampion, dan neon memantul dari atap mobil kulihat begitu indah

malam itu,

aku sendiri, sunyi

kupipil edamame itu satu demi satu

masuk ke mulutku, keperutku, terasa dingin mengalir

bahan baku pembuat tahu dan tempe itu demikian gurih, asin, dan bergizi

tapi itu disini, bukan di Hachioji

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu yang tersusun rapi kulihat begitu indah

sudah sepuluh malam

tapi masih ramai orang datang

sangat sedikit yang pulang

ya…mereka menahan diri disini, “hang-out” habis-habisan dan seakan ogah pulang

meski waktu menjelang

mereka penuhi cafe, resto, dan toko

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat begitu indah

tapi mengapa mereka disini?

masih di hari kerja

apakah memang mereka harus berfoya-foya setiap harinya?

bukan hanya di akhir pekan dengan keluarga

membuat ku tak percaya negeri ini sedang sekarat meronta

jika mereka terus tertawa seakan lupa masih banyak orang papa

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat masih indah

disela suara nyanyian “Yo zura nomuko”

“arekara bokutachiwa nandika washinjite kore takana…”

sejenak lagi, lagi-lagi kuterhenyak

jika kuingat

negeri ku meronta, namun mereka tak merasa

memang itulah kehidupan

tapi apa memang harus demikian?

***

pendaran lampu, lampion dan neon-neon itu masih kulihat indah

tapi sampai kapan?

kudekati, kuhampiri

ah..itu lampu biasa yang boros energi

disusun berdelapan serupa untaian

dari jauh kulihat begitu indah

kudekati, dan kuhampiri

ternyata purnama di atas sana tiada bandingannya

di sudut pelosok Paris van Java

***

ku pergi menjauh

ke seberang jalan menunggu

bukan menunggu engkau kekasih

menunggu angkot stasiun hotelku disitu

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat masih indah

dari balik kaca jendela

dari jauh, ya dari jauh…

sejauh hatimu kepada mereka yang papa

***

pendaran lampu, lampion, dan neon itu kulihat memang masih indah.

+++