“Cukup biadab”, aku jawab
ketika kuli tinta bertanya
tentang tayangan itu
visual perjuangan orang-orang menghadapi maut
ketika pesawat naas menukik laut
ketika “Allahu AKbar” bergema di cockpit sempit
ketika rekayasa dilomba menarik pemirsa
hingga melupakan dan tidak menyisakan sedikit pun rasa manusia
***
“cukup biadab” kutak ragu
luka, perih, kecewa, hingga trauma yang baru saja ditutup perlahan
tiba-tiba dibuka
paksa
tanpa bisa berupaya pura-pura tuli dan buta
karena mereka mengumbarnya dari pagi, siang, sore, malam, hingga pagi lagi
tanpa peri
demi rating televisi
mulai berita biasa, insert-insertan, seleb-seleban, dan entah apa lagi namanya
merujuk siapa saja
anak, pacar, isteri, ibu, ayah, mertua hingga sahabat para korbannya
***
“cukup biadab” yakinku
memaksa orang-orang kembali meringis menahan pilu
terisak, tersedan, dan telentang tak berdaya
tiada ruang lari dan sembunyi
kemanapun berita itu mengejar
di dapur, di ruang keluarga, di lorong rumah sakit hingga warung soto dan indo mie
tak ada tempat lari
dari kebiadaban orang sebangsanya
yang mengejar rating semata
yang ingin mendulang iklan dan uang sebanyak-banyaknya
di atas luka dan duka mereka
***
ah ada kah ruang untuk sembunyi
dari murka ALlah yang maha Pasti?
kita hanya tinggal berdoa
dari tumpukan masalah demi masalah negeri
agar bangsa kita masih di sayang NYa
amin
aaccchh, rasanya kita tak perlu meminta padaNYA
justru kita wajib bersyukur
karena sungguh Allah sangat sayang sama kita
mestinya dengan tingkat kebejatan yang ada
kita tidak pantas semulia ini
kita sungguh lupa diri
——kamar sempit di sawangan depok, siang sabtu sambil menunggu anakku—-



Recent Comments