Sungguh, Tuhan Masih (sangat) sayang kita!

8 08 2008

“Cukup biadab”, aku jawab

ketika kuli tinta bertanya

tentang tayangan itu

visual perjuangan orang-orang menghadapi maut

ketika pesawat naas menukik laut

ketika “Allahu AKbar” bergema di cockpit sempit

ketika rekayasa dilomba menarik pemirsa

hingga melupakan dan tidak menyisakan sedikit pun rasa manusia

***

“cukup biadab” kutak ragu

luka, perih, kecewa, hingga trauma yang baru saja ditutup perlahan

tiba-tiba dibuka

paksa

tanpa bisa berupaya pura-pura tuli dan buta

karena mereka mengumbarnya dari pagi, siang, sore, malam, hingga pagi lagi

tanpa peri

demi rating televisi

mulai berita biasa, insert-insertan, seleb-seleban, dan entah apa lagi namanya

merujuk siapa saja

anak, pacar, isteri, ibu, ayah, mertua hingga sahabat para korbannya

***

“cukup biadab” yakinku

memaksa orang-orang kembali meringis menahan pilu

terisak, tersedan, dan telentang tak berdaya

tiada ruang lari dan sembunyi

kemanapun berita itu mengejar

di dapur, di ruang keluarga, di lorong rumah sakit hingga warung soto dan indo mie

tak ada tempat lari

dari kebiadaban orang sebangsanya

yang mengejar rating semata

yang ingin mendulang iklan dan uang sebanyak-banyaknya

di atas luka dan duka mereka

***

ah ada kah ruang untuk sembunyi

dari murka ALlah yang maha Pasti?

kita hanya tinggal berdoa

dari tumpukan masalah demi masalah negeri

agar bangsa kita masih di sayang NYa

amin

aaccchh, rasanya kita tak perlu meminta padaNYA

justru kita wajib bersyukur

karena sungguh Allah sangat sayang sama kita

mestinya dengan tingkat kebejatan yang ada

kita tidak pantas semulia ini

kita sungguh lupa diri

——kamar sempit di sawangan depok, siang sabtu sambil menunggu anakku—-