Idul Fitri, Aku, dan Negeriku

30 09 2008
pasar teleng (teleang, mereng, miring)

dulu aku begitu yakin,

tidak mesti pulang kampung ketika fitri tiba,

cukup dalam hati saja.

kini ku tak yakin akan semua itu,

menghemat belanja dan berhitung semata,

sesuatu yang tak mesti diraba, tapi juga perlu dirasa.

ibu ku telah pergi

ku tak sering menengoknya dulu

kekampungku

meski hari raya

karena kukira, berhemat untuk adik-adikku jauh lebih baik

dari sekedar menghamburkan biaya untuk berkumpul saudara.

keliru

mungkin saja,

meski aku cukup bahagia

ketika musim sakit dan nikah tiba

aku ada disana untuk mereka, ibu, ayah dan saudaraku.

ibu ku telah pergi,

kini aku merasa sunyi,

tak ada gairah pergi

ke kampung halaman yang juga semakin sepi.

beberapa kali fitri lewat,

meski anakku tidak bertanya mau lebaran dimana,

aku merasa lega bisa di rumahku saja,

tapi itu dulu.

kini ketika kuingat lagi

ibuku telah pergi

seharusnya aku disana

lebih sering dan sering dan sering,

tapi itulah anak manusia

harus menjalani hidupnya tanpa harus siap apa-apa

memang semuanya dijalani saja.

namun ketika negeri ku juga ikut papa

aku sendiri gamang

tak tahu lagi mana pegangan,

mana tongkat yang mungkin membawa rebah.

memang ku harus pasrah,

tengadah tanpa daya

tersiram fitri dan gaung takbirnya

disini, bersama anak dan istriku

di rumah kami, di negeri kami, di dunia kami

selamat idul fitri, tak usah semuanya disesali

karena kau tak pernah tahu

apa yang terbaik dan terburuk bagimu

hanya Allah lah yang Maha Tahu itu.

Sawangan, Malam Idul Fitri 1429H