dulu aku begitu yakin,
tidak mesti pulang kampung ketika fitri tiba,
cukup dalam hati saja.
kini ku tak yakin akan semua itu,
menghemat belanja dan berhitung semata,
sesuatu yang tak mesti diraba, tapi juga perlu dirasa.
ibu ku telah pergi
ku tak sering menengoknya dulu
kekampungku
meski hari raya
karena kukira, berhemat untuk adik-adikku jauh lebih baik
dari sekedar menghamburkan biaya untuk berkumpul saudara.
keliru
mungkin saja,
meski aku cukup bahagia
ketika musim sakit dan nikah tiba
aku ada disana untuk mereka, ibu, ayah dan saudaraku.
ibu ku telah pergi,
kini aku merasa sunyi,
tak ada gairah pergi
ke kampung halaman yang juga semakin sepi.
beberapa kali fitri lewat,
meski anakku tidak bertanya mau lebaran dimana,
aku merasa lega bisa di rumahku saja,
tapi itu dulu.
kini ketika kuingat lagi
ibuku telah pergi
seharusnya aku disana
lebih sering dan sering dan sering,
tapi itulah anak manusia
harus menjalani hidupnya tanpa harus siap apa-apa
memang semuanya dijalani saja.
namun ketika negeri ku juga ikut papa
aku sendiri gamang
tak tahu lagi mana pegangan,
mana tongkat yang mungkin membawa rebah.
memang ku harus pasrah,
tengadah tanpa daya
tersiram fitri dan gaung takbirnya
disini, bersama anak dan istriku
di rumah kami, di negeri kami, di dunia kami
selamat idul fitri, tak usah semuanya disesali
karena kau tak pernah tahu
apa yang terbaik dan terburuk bagimu
hanya Allah lah yang Maha Tahu itu.
Sawangan, Malam Idul Fitri 1429H




Recent Comments