bubur ayam, martabak, dan semir sepatu

15 03 2009

jumat itu, tiga belas maret kosong sembilan

kegembiraan itu dan nikmatMu, kurasakan dari pagi hingga jam delapan

bubur itu, kusikat habis dan masih ditambahi martabak

penat dan capek itu, menambah semangat untuk makan enak

***

sayup kudengar di telingaku

semir om?“, seraut wajah kuyu berbaju biru dibelakang mejaku

anak gadis kecil bertas pinggang kecil, memanggil

“nanti ya!” jawabku, merasa terusik

“leave me alone, jangan ganggu aku dulu!” begitu rayuan setan menggedor batinku

om bagi martabaknya nanti ya, aku kepengen!” suara itu meneruskan rengekannya

kudiam, kulanjutkan membunuh rasa lapar yang lama kutahan

kunikmati bubur hangat, tapi mulai tersendat

“kamu punya semir apa?” tanyaku memanggil dia yang sudah kepinggir

“kiwi om!” dia kembali mendekat

sepatuku kulepas, karena memang kotor

kemaren kehujanan di tempat parkir bertanah basah

pun sudah lama tak  kusemir

ia gembira dan membawanya ke temannya

***

cekatan mereka

dengan tangan membalur bagian sepatu hitamku satu-satunya

dengan tawa ria mereka bekerja sama, sama-sama bekerja

anak lelaki lain mengincar, menawarkan jasanya

***

diam-diam kupesankan satu lagi martabak

ku keluarkan kamera

kujepretkan ke wajah-wajah lusuh dan kumuh itu

berkali-kali

sempat kaget, kemudian mereka mendekat dan bergaya

cukup lama kutunggu sepatuku

meski bubur dan minumku sudah tandas

kunikmati nikmatMu

kuingat hariku, Jumatku, dan kesejukanMu

***

“udah aja” pastiku ketika melihat kilatan hitam

kupanggil, siska namanya

“nih martabaknya, makan rame-rame ya!” tegasku

siska menyambar termasuk uang beberapa lembar, tapi masih di sekitar

kulihat teman siska melongo menunggu martabaknya dibuka

***

“om katanya buat ibunya” anak kecil lainnya berjaket hijau memelas

kupanggil siska dan kusuruh buka

“katanya kamu ingin makan martabak, makan sama-sama ya” tukasku

siska akhirnya menurut dan sekejap martabak mereka santap

nikmatya ikut kurasakan

mereka lalu  kutinggalkan

mereka menyusul ku

“ada apa lagi?” mbatinku

kaca pintu kuturunkan

“om, kok kami difoto? mau dimasukin koran ya?” tanya si jaket hijau

“gak hanya untuk om saja” tapi aku membatin juga

“udah ya, om pulang dulu, anak om menunggu!”

si jaket hijau mematung, ragu

“om kapan datang lagi?” tanya nya sendu

membuat ku ragu dan terdiam bisu

dadaku sesak, ingin meledak

“nanti om pasti datang lagi!” pelan kujawab

mulutku terkunci, mata berkaca

hati-hati dijalan ya om!” si jaket hijau memberikan salam perpisahan

kutahu salamnya tulus, menyejukkan

bukan karena bubur, martabak atau semir sepatu

tapi keluguan dan ketulusan  anak-anak sebaya anakku, anakmu, anak-anak kita.

siska cs bergembira menyemir sepatu saya

siska cs bergembira menyemir sepatu saya

mereka pun bergaya, lupa martabaknya

mereka pun bergaya, lupa martabaknya
tetap ceria menggosok sepatu saya

tetap ceria sambilkerja

depok, minggu malam, 15 maret kosong sembilan