jumat itu, tiga belas maret kosong sembilan
kegembiraan itu dan nikmatMu, kurasakan dari pagi hingga jam delapan
bubur itu, kusikat habis dan masih ditambahi martabak
penat dan capek itu, menambah semangat untuk makan enak
***
sayup kudengar di telingaku
“semir om?“, seraut wajah kuyu berbaju biru dibelakang mejaku
anak gadis kecil bertas pinggang kecil, memanggil
“nanti ya!” jawabku, merasa terusik
“leave me alone, jangan ganggu aku dulu!” begitu rayuan setan menggedor batinku
“om bagi martabaknya nanti ya, aku kepengen!” suara itu meneruskan rengekannya
kudiam, kulanjutkan membunuh rasa lapar yang lama kutahan
kunikmati bubur hangat, tapi mulai tersendat
“kamu punya semir apa?” tanyaku memanggil dia yang sudah kepinggir
“kiwi om!” dia kembali mendekat
sepatuku kulepas, karena memang kotor
kemaren kehujanan di tempat parkir bertanah basah
pun sudah lama tak kusemir
ia gembira dan membawanya ke temannya
***
cekatan mereka
dengan tangan membalur bagian sepatu hitamku satu-satunya
dengan tawa ria mereka bekerja sama, sama-sama bekerja
anak lelaki lain mengincar, menawarkan jasanya
***
diam-diam kupesankan satu lagi martabak
ku keluarkan kamera
kujepretkan ke wajah-wajah lusuh dan kumuh itu
berkali-kali
sempat kaget, kemudian mereka mendekat dan bergaya
cukup lama kutunggu sepatuku
meski bubur dan minumku sudah tandas
kunikmati nikmatMu
kuingat hariku, Jumatku, dan kesejukanMu
***
“udah aja” pastiku ketika melihat kilatan hitam
kupanggil, siska namanya
“nih martabaknya, makan rame-rame ya!” tegasku
siska menyambar termasuk uang beberapa lembar, tapi masih di sekitar
kulihat teman siska melongo menunggu martabaknya dibuka
***
“om katanya buat ibunya” anak kecil lainnya berjaket hijau memelas
kupanggil siska dan kusuruh buka
“katanya kamu ingin makan martabak, makan sama-sama ya” tukasku
siska akhirnya menurut dan sekejap martabak mereka santap
nikmatya ikut kurasakan
mereka lalu kutinggalkan
mereka menyusul ku
“ada apa lagi?” mbatinku
kaca pintu kuturunkan
“om, kok kami difoto? mau dimasukin koran ya?” tanya si jaket hijau
“gak hanya untuk om saja” tapi aku membatin juga
“udah ya, om pulang dulu, anak om menunggu!”
si jaket hijau mematung, ragu
“om kapan datang lagi?” tanya nya sendu
membuat ku ragu dan terdiam bisu
dadaku sesak, ingin meledak
“nanti om pasti datang lagi!” pelan kujawab
mulutku terkunci, mata berkaca
“hati-hati dijalan ya om!” si jaket hijau memberikan salam perpisahan
kutahu salamnya tulus, menyejukkan
bukan karena bubur, martabak atau semir sepatu
tapi keluguan dan ketulusan anak-anak sebaya anakku, anakmu, anak-anak kita.

siska cs bergembira menyemir sepatu saya


tetap ceria sambilkerja
depok, minggu malam, 15 maret kosong sembilan



[...] selengkapnya [...]
mereka masih lumayan mau bekerja, dibanding yang hanya meminta-minta
pernah saat sedang makan di pinggir jalan, ada anak berusia sekitar 13tahunan, berbaju rapi pakai kopiah dengan membawa form sumbangan dari sebuah yayasan.
iseng2 saya tanya dia bersekolah dimana dan tinggal dengan siapa. die jawab bersekolah di salah sebuah SD di daerah Pulogadung *saya lupa tepatnya dimana* dan tinggal dengan ibunya
saya tanya lagi, kelas berapa ? dia jawab kelas 4
kemudian saya coba ‘uji’ dia dengan meminta membaca kata “DESA” (tertera di form sumbangan tsb). tapi dia diam saja sambil gelisah mau pergi, namun saya tahan. saya bilang nanti saya kasih kamu uang.
kemudian saya cecar dgn pertanyaan, kamu bener kelas 4? kalo memang kelas 4, mustahil kamu belum bisa baca. setelah beberapa lama saya tanya2, akhirnya dia menjawab, bahwa dia belum pernah bersekolah.
then saya tanya apakah dia mau belajar membaca? nanti kakak ajari. dia jawab mau, tapi setelah menerima uang dia langsung cepat2 pergi dan ndak pernah ketemu lagi sampai sekarang.
Salam buat Mas Eddy (kalau boleh saya panggil mas)
Sekarang ini kita telah dibutakan dengan pekerjaan untuk mengejar uang, jabatan dan lainnya. Hal yang dianggap sepele oleh sebagian orang mudah dilupakan, bahwa anak jalanan itu juga merupakan tanggungjawab kita bersama. Kepedulian memang dibutuhkan tetapi beban tidak dapat ditanggung sendirian.
terima kasih atas tulisannya, yang memberi inspirasi kepada saya. Kebetulan saya sedang merintis dan mendorong anak putus sekolah untuk mau sekolah, ternyata berat tantangannya. tapi sekali maju pantang mundur ….. begitu kata pepatah orangtua.
terima kasih
Mbak Clara dan Mas EW yang baik,
Terima kasih atas supportnya, memang kita harus terus menggali makna hidup ini dengan cara unik sesuai nurani kita. jangan cepat berpuas diri dan latah ikut2an orang lain. semoga apa yang anda usahakan dapat berhasil dan cita-citakan dapat terkabul. Amin!!